BI : Alipay Bisa Ilegal Kalau Menabrak Aturan

Bank Indonesia (BI) meminta layanan pembayaran dari China yaitu WeChat dan Alipay untuk berkoordinasi dan mengajukan izin legal ke Pemerintah Provinsi Bali.Hal ini seiring mulai banyaknya turis China yang menggunakan WeChat sebagai sarana transaksi pembayaran.

WeChat, AliPay, dan LiduidPay masuk Indonesia lewat BNI. “Transaksi WeChat dan Alipay di Bali diharapkan bisa memberikan manfaat bagi ekonomi daerah,” kata Onny Widjanarko Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI kepada kontan.co.id, Jumat (16/11).

Onny berharap dua layanan pembayaran dari China ini bisa mengikuti dan mendukung kebijakan pemerintah daerah. Selain itu WeChat dan Alipay diharapkan bisa melakukan kerjasama dan peningkatan compliance terhadap aturan pemda.

WeChat dan Alipay sedang menggandeng Bank BNI agar transaksi layanan pembayaran dari China ini bisa legal dilakukan di Indonesia.Anang Fauzie, GM Electronic Banking BNI megkonfirmasi kerjasama dengan WeChat dan Alipay ini sedang dalam finalisasi.

Baca: Beda dengan di Indonesia, di Amerika Biaya Sewa Motor Harley Davidson Sangat Murah“Untuk merchant dan toko yang ditutup di Bali ini justru karena WeChat dan Alipay belum melakukan kerjasama dengan pemprov dan masih ilegal,” kata Anang kepada kontan.co.id, Jumat (16/11).

Sementara itu Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2018 mengalami defisit sebesar 1,82 miliar dolar AS. Tercatat, nilai ekspor Indonesia pada Oktober 2018 mencapai 15,80 miliar dolar AS.

Sedangkan nilai impornya mencapai 17,62 miliar dolar AS, naik 20,60 persen dibanding September 2018. 
Defisit tersebut dipicu oleh sektor migas yang mengalami defisit sebesar 1,43 miliar dolar AS, naik 26,97 persen dari September 2018 dan nonmigas sebesar 0,39 miliar dolar AS.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan, impor memang masih cukup tinggi. Salah satunya, karena dipengaruhi oleh kenaikan impor untuk kebutuhan proyek- proyek infrastruktur Pemerintah.

Namun impor tersebut masih bersifat produktif karena barang modal.Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, impor bahan baku memang mengalami peningkatan sebesar 22,59 persen menjadi 13,37 miliar dolar AS dan peningkatan tahunannya mencapai 23,10 persen.

Untuk impor barang modal meningkat sebesar 15,57 persen menjadi 2,75 miliar dolar AS dipicu oleh masih banyaknya impor mesin.“Impor barang modal sejalan dengan pembangunan infrastruktur, demikian juga investasi bangunan dan non bangunan,” kata Perry Warjiyo, Kamis (15/11/2018).

Mengingatkan saja, defisit transaksi berjalan pada triwulan III 2018 tercatat sebesar 8,8 miliar dolar AS atau setara 3,37 persen PDB.Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan defisit triwulan sebelumnya sebesar 8,0 miliar dolar AS 3,02 persen PDB.

Sementara itu, neraca transaksi modal dan finansial pada triwulan III 2018 surplus 4,2 miliar dolar AS. “Secara keseluruhan tahun 2018, defisit transaksi berjalan diprakirakan tetap berada di bawah 3 persen PDB,” ungkap Perry